Monday, May 19, 2008

Arti dan Fungsi Tauhid

Oleh: M. Amien Rais

Kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan paling esensial. Secara etimologis, tauhid berarti meng-esa-kan, yaitu meng-esa-kan Allah. Formulasi paling pendek dari tauhid itu ialah kalimat thayyibah: la ilaha illa Allah, yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah.

Dengan mengatakan “tidak ada Tuhan selain Allah”, seorang manusia-tauhid memutlakkan Allah Yang Maha Esa sebagai Khaliq atau Maha Pencipta, dan menisbikan selain-Nya sebagai makhluk atau ciptaan-Nya. Karena itu, hubungan manusia dengan Allah tak setara dibandingkan hubungannya dengan sesama makhluk. Tauhid berarti komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus dari seluruh rasa hormat, rasa syukur, dan sebagai satu-satunya Sumber-nilai. Apa yang dikehendaki oleh Allah akan menjadi nilai (value) bagi manusia-tauhid, dan ia tidak akan menerima otoritas dan petunjuk Allah. Komitmennya kepada Tuhan adalah utuh, total, positif dan kukuh, mencakup cinta dan pengabdian, ketaatan dan kepasrahan (kepada Tuhan), serta kemauan keras untuk menjalankan kehendak-Nya.

Pembebasan Manusia

La ilaha illa Allah meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang tidak dari Tuhan. Jadi, sesungguhnya kalimat thayyibah merupakan kalimat pembebasan bagi manusia. Seorang manusia-tauhid mengemban tugas untuk melaksanakan tahrirun nas min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadatilllah (membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata). Dengan tauhid, manusia tidak saja akan bebas dan merdeka, melainkan juga akan sadar bahwa kedudukannya sama dengan manusia lain manapun. Tidak ada manusia yang lebih superior (unggul, tinggi, agung, mulia, dsb.) atau inferior (hina, rendah, dsb.) terhadap manusia lainnya. Jika tidak ada manusia yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada manusia lainnya di hadapan Allah, maka juga tidak ada kolektivitas manusia, baik sebagai suatu suku ataupun suatu bangsa, yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada suku atau bangsa lainnya. Semuanya berkedudukan sama di hadapan Allah. Yang membedakan satu dengan lainnya adalah tingkat ketakwaan kepada Allah Swt (al-Hujurat: 13).

Sekali seorang manusia atau bangsa merasa dirinya lebih inferior dibanding manusia atau bangsa lainnya, maka ia akan kehilangan kebebasan dan jatuh ke dalam perbudakan mental. Seorang yang mengakui superioritas sekelompok manusia tertentu – entah berdasarkan kekuasaan, warna kulit, ataupun atas dasar apa saja – berarti dengan sendirinya ia akan kehilangan kebebasan dan sekaligus meremehkan makna tauhid. Demikian juga dalam masalah-masalah keagamaan, Islam tidak mengakui setiap lembaga yang menyerupai lembaga kependetaan (priesthood, rabbihood), karena Tuhan tidak pernah mempercayakan suatu perwalian untuk mewakili-Nya di muka bumi ini. “La rahbaniyyata fil Islam” (tidak ada sistem kependetaan dalam Islam), demikian Nabi Muhammad saw berkata. Dengan perkataan lain, sekali seorang manusia lebih rendah atau lebih tinggi daripada manusia lainnya, ia jatuh ke dalam syirk – lawan tauhid.

Al-Quran mendorong manusia untuk selalu mencari kebenaran, dan mendorong manusia agar senantiasa menanyakan kebenaran yang sudah diterima dari nenek-moyangnya (al-Baqarah: 170); selalu terbuka kepada koreksi atas keyakinan yang keliru (az-Zukhruf: 22-24); dan senantiasa menguji apa yang sudah dianggap sebagai suatu kebenaran (Al-A’raf: 28-29). Banyak manusia yang cenderung mengikuti tradisi dan keyakinan nenek-moyangnya. Selain itu, mereka juga cenderung untuk mengikuti langkah para pemimpin tanpa menggunakan akal-sehat mereka. Tidak mengherankan kalau para penguasa atau para pemimpin sering memiliki otoritas yang tak bisa ditantang (unchallenged authority), oleh karena banyak manusia yang menyerah dan tunduk kepada mereka, tanpa daya-pikir kritis serta keberanian untuk mengkritik. Padahal para penguasa atau para pemimpin umumnya memiliki kepentingan tertentu (vested interest) untuk membela status quo, dan mengelabui para pengikutnya. Al-Quran mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak bersikap kritis terhadap para pemimpin mereka, akan kecewa di Hari Akhir, dan mengeluh: “…Ya Tuhan kami, kami telah taat kepada para pemimpin dan orang-orang besar kami, lalu mereka sesatkan kami dari jalan-Mu yang lurus.” (al-Ahzab: 67)

Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan sesama makhluk, kalimat thayyibah juga mengajarkan emansipasi manusia dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa-nafsu, gila kekuasaan, dan kesenangan-kesenangan sensual belaka. Suatu kehidupan yang didedikasikan pada kelezatan sensual, kekuasaan, dan penumpukan kekayaan, pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran-jernih. Dengan tajam al-Quran menyindir orang-orang semacam ini: “tidakkah engkau lihat orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhan? Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya? Apakah engkau sangka kebanyakan mereka mendengar atau menggunakan akalnya? Mereka itu tidak lain seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (al-Furqan: 43-44)

Komitmen Manusia Tauhid

Sementara itu kita melihat sebagian masyarakat penganut Islam masih belum memahami arti tauhid, sehingga mereka sesungguhnya masih belum merdeka dan belum menyadari status manusiawinya. Di sinilah sebenarnya letak kemandekan kebanyakan masyarakat muslim dewasa ini. Kita bisa mengatakan bahwa keterbelakangan ekonomi, stagnasi intelektual, degenerasi sosial, dan pelbagai macam kejumudan lainnya yang diderita oleh masyarakat muslim, sesungguhnya berakar pada kemorosotan tauhid. Oleh karena itu, untuk melakukan restorasi dan rekonstruksi manusia-muslim, baik secara individual maupun kolektif, tauhid adalah masalah pertama dan terpenting untuk segera dipersegar dan diluruskan. Dengan demikian, jelas bahwa anjuran sekularisasi, misalnya untuk memperbarui pemahaman Islam, adalah suatu ajakan yang tidak mempunyai dasar di dalam Islam, dan akan membuat kemerosotan umat menjadi lebih parah.

Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa komitmen manusia-tauhid tidak saja terbatas pada hubungan vertikalnya dengan Tuhan, melainkan juga mencakup hubungan horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk; dan hubungan-hubungan ini harus sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah ini memberi visi kepada manusia-tauhid untuk membentuk suatu masyarakat yang mengejar nilai-nilai utama dan mengusahakan tegaknya keadilan sosial. Pada gilirannya, visi ini memberikan inspirasi pada manusia tauhid untuk mengubah dunia di sekelilingnya agar sesuai dengan kehendak Allah, dan inilah misi manusia-tauhid atau manusia-muslim. Misi ini menuntut serangkaian tindakan agar kehendak Allah menjadi kenyataan, dan misi ini merupakan bagian integral dari komitmen manusia-tauhid kepada Allah. Misi untuk mengubah dunia, menegakkan kebenaran dan keadilan, merealisasikan pelbagai nilai utama, dan memberantas kerusakan di muka bumi (fasad fil ardh), bukanlah sekedar derivative, melainkan merupakan bagian integral komitmen manusia-tauhid kepada Allah. Gabungan dari manusia-manusia tauhid inilah yang kemudian membentuk suatu ummah. Dengan menegakkan kebenaran dan keadilan (amar ma’ruf) dan memberantas kejahatan (nahi munkar) sebagai dua ciri utamanya, ummat-tauhid menujukan sasaran dari gerakannya bukan pada bangsa atau kelompok masyarakat tertentu, melainkan pada seluruh kemanusiaan itu sendiri, seperti difirmankan oleh Allah: “engkau sekalian adalah ummat terbaik yang telah dilahirkan untuk seluruh manusia; engkau melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan engkau beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Manusia-tauhid dan umat-tauhid berkewajiban untuk menegakkan suatu orde sosial yang adil dan etis. Al-Quran mengutuk ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial, dan menyuruh kita untuk menegakkan suatu tatanan sosial yang etis dan egalitarian. Surat-surat al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sewaktu beliau masih berada di Makkah, mengecam keras dua macam masalah: politeisme atau kemajemukan dewa-dewa yang simptomatis dari masyarakat yang ter[ecah belah, dan disparitas sosio-ekonomi yang bersarang pada keterpecahbelahan masyarakat. Kedua hal ini merupakan dua sisi dari satu mata uang. Al-Quran bertubi-tubi menyerang disparitas ekonomi, justeru karena masalah ini memang sangat sulit dipecahkan (al-Ma’un: 1-6 dan al-Humazah: 1-6). Al-Quran jelas tidak melarang manusia untuk mengumpulkan harta benda, akan tetapi penyalahgunaan kekayaan – yang menyebabkan manusia buta terhadap nilai-nilai luhur – dikecam keras oleh al-Quran (Ali Imran: 14; Yunus: 23; ar-Ra'd: 36; az-Zukhruf: 35; dan seterusnya).

Al-Quran memegang keadilan distributif (distributive justice), di mana sekelompok masyarakat tidak diperkenankan menjadi terlalu kaya, sementara kelompok lainnya menderita kemiskinan yang bertentangan dengan harkat kemanusiaan. “Kekayaan tidak boleh berputar hanya dalam lingkaran orang-orang kaya” (al-Hasyr: 7) merupakan suatu kebijakan ekonomi dalam ajaran Islam. Dengan demikian, menjadi tanggung jawab manusia dan ummat-tauhid untuk selalu bekerja keras dan mencari pemecahan-pemecahan yang feasible untuk melaksanakan keadilan distributif tersebut.

Namun kita tidak boleh lupa bahwa keadilan sosio-ekonomi bukanlah tujuan akhir. Keadilan sosio-ekonomi itu sendiri adalah jembatan untuk menuju suatu tujuan yang lebih tinggi, yaitu kebahagiaan akhirat. Dengan visinya, manusia dan umat-tauhid harus melihat konsekuensi-konsekuensi tindakannya, baik di dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan, maupun bidang kehidupan lainnya, dan mengarahkannya ke suatu tujuan yang menjadi dasar komitmennya kepada Allah. Ini semua tidak mungkin akan bisa dicapai kecuali dengan jihad dalam arti badzlul juhdi (total endeavor), ke arah total dari seluruh tenaga, daya, dana, dan pikiran untuk mewujudkan kalimatullah hiyal ‘ulya, yaitu terselenggaranya nilai-nilai yang diridhai Allah Swt (at-Taubah: 40).

____________

Diambil dari “Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta”, karya Dr. M. Amien Rais, cetakan X, Penerbit Mizan, Bandung 1999)

No comments: